MEDICGUARD.ID – Aktivitas sekolah yang padat serta banyaknya tugas-tugas harian ternyata juga berisiko pada kesehatan mental anak.
Kondisi tersebut berpotensi memicu anak mengalami academic burnout.
Istilah ini mengacu pada keadaan di mana anak mengalami akumulasi dari segala rasa lelah yang terlalu lama, sehingga mengendap di pikiran dan tubuh.
Pemicunya bisa dari aktivitas anak yang terlalu padat, dalam hal ini kegiatan sekolah, belajar ataupun tugas-tugas yang terlalu banyak.
Misalnya saja harus sudah siap bangun pagi, ikut bimbingan belajar, mengerjakan latihan soal di malam hari, dan seterusnya.
Tioni Asprilia, M.Psi., Psikolog Klinis Spesialis Anak, Dewasa Muda, dan Keluarga menjelaskan dengan rutinitas seperti itu, energi anak bakal terkuras sehingga tidak memiliki waktu bersantai.
Faktor lain dari munculnya academic burnout adalah anak kurang percaya diri atas kemampuannya.
“Dia merasa inferior lantaran teman-temannya memiliki prestasi di sekolah,” terangnya.
Akibatnya, anak merasa harus terbebani untuk belajar terus-terusan.
Belum lagi bila ada tugas dari guru atau jadwal tryout yang rutin digelar tiap minggu.
Anak akan kesulitan membagi waktu untuk belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, atau membantu orangtua di rumah.
“Banyaknya tanggung jawab yang mesti dipikul dapat pula memicu academic burnout,” terangnya.
Bukan Gangguan Mental
Meski begitu, kata Tioni, academic burnout masih belum termasuk ke dalam gangguan mental.
Akan tetapi, hal ini dapat berdampak pada penurunan prestasi di sekolah karena kurang optimalnya performa anak setelah mengalami kelelahan fisik dan emosional.
“Anak yang lelah dapat menjadi lebih mudah marah, ngambek, frustrasi, kurang termotivasi, hingga meluapkan emosinya secara berlebihan,” terangnya.
Selain mempengaruhi performa di sekolah, academic burnout juga dapat memengaruhi kondisi fisik anak di mana dapat timbul sakit kepala hingga gangguan pola tidur.
Identifikasi Sejak Dini
Orangtua pun sebaiknya mulai mengidentifikasi sejak dini pangkal kelelahan yang dialami anak.
Kemudian, cobalah mendorong anak untuk melakukan micro break atau jeda sejenak untuk menjaga jarak terlebih dulu dari rutinitas harian.
Lazimnya, micro break ini dilakukan pekerja. Dalam sebuah studi kepada pekerja, micro break berperan dalam menekan tingkat stres.
Kemudian, pada gilirannya akan membangun suasana hati yang positif sehingga menghilangkan emosi negatif.
“Anak-anak juga dapat menerapkan micro-break alias rehat sejenak untuk mencegah academic burnout. Waktu istirahat bagi anak dapat disesuaikan sesuai dengan kemampuannya untuk fokus pada suatu pekerjaan berdasarkan usia,” bebernya.
Misalnya, pada anak Sekolah Dasar (SD), setelah belajar selama 10-15 menit, sebaiknya diberikan waktu istirahat sejenak.
Waktu istirahat juga dapat digunakan untuk melakukan aktivitas yang disukai anak seperti bermain, menari, bernyanyi, atau yang lainnya.
Waktu istirahat juga dapat digunakan untuk melakukan aktivitas yang menenangkan, seperti melakukan pernafasan atau stretching. (*)
Leave a comment