MEDICGUARD.ID – Mengatasi trauma merupakan proses yang kompleks dan mendalam.
Dan bagi sebagian orang, mengatasi rasa takut atau trauma terhadap sesuatu bukanlah perkara yang mudah.
Selain itu, proses melawan atau mengatasi trauma juga membutuhkan waktu
Secara klinis, trauma bukan sekadar peristiwa buruk yang terjadi di masa lalu, melainkan sisa-sisa emosional dan neurologis yang masih tertinggal dalam sistem saraf seseorang.
Berikut adalah artikel berdasarkan pendekatan psikologi modern dan literatur ilmiah mengenai langkah-langkah mengatasi trauma.
Memahami dan Mengatasi Trauma
Trauma terjadi ketika sebuah peristiwa melampaui kemampuan otak untuk memproses informasi secara normal.
Menurut American Psychological Association (APA), pemulihan dari trauma melibatkan pengintegrasian kembali pengalaman tersebut ke dalam narasi hidup seseorang tanpa memicu reaksi ‘lawan atau lari’ (fight or flight) yang berlebihan.
1. Membangun Regulasi Sistem Saraf
Banyak penelitian, termasuk karya Dr. Bessel van der Kolk dalam “The Body Keeps the Score”, menunjukkan bahwa trauma tersimpan di area otak non-verbal. Oleh karena itu, kata-kata saja terkadang tidak cukup.
-
Teknik Grounding: Gunakan metode 5-4-3-2-1 (melihat 5 benda, menyentuh 4 benda, mendengar 3 suara, mencium 2 aroma, dan merasakan 1 rasa) untuk menarik kesadaran kembali ke masa sekarang.
-
Latihan Pernapasan: Mengaktifkan saraf vagus melalui pernapasan perut dapat menurunkan detak jantung dan memberikan sinyal “aman” ke otak.
2. Menggunakan Pendekatan Psikoterapi yang Teruji
Jurnal ilmiah secara konsisten menunjukkan beberapa metode terapi paling efektif untuk trauma:
-
Cognitive Behavioral Therapy (CBT): Fokus pada mengubah pola pikir negatif yang muncul akibat trauma.
-
EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing): Terapi ini menggunakan stimulasi bilateral (seperti gerakan mata) untuk membantu otak memproses ingatan traumatis sehingga tingkat gangguan emosionalnya berkurang.
-
Somatic Experiencing: Pendekatan yang fokus pada sensasi tubuh untuk melepaskan ketegangan trauma yang “terperangkap” secara fisik.
3. Menulis Ekspresif (Metode Pennebaker)
Penelitian dari James Pennebaker menunjukkan bahwa menulis tentang pengalaman emosional yang mendalam secara rutin dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh dan kesehatan mental
. Dengan menulis, seseorang dipaksa untuk menyusun fragmen memori yang berantakan menjadi sebuah cerita yang koheren, yang membantu proses asimilasi memori di otak.
4. Membangun Dukungan Sosial (Resiliensi Kolektif)
Psikolog menekankan bahwa isolasi adalah musuh utama pemulihan. Dukungan sosial yang sehat memicu pelepasan oksitosin, yang secara alami melawan hormon stres (kortisol). Bergabung dengan komunitas atau berbicara dengan orang yang dipercaya memberikan validasi bahwa pengalaman Anda nyata dan Anda tidak sendirian.
5. Mempraktikkan Self-Compassion
Seringkali korban trauma menyalahkan diri sendiri (self-blame).
Penelitian dari Dr. Kristin Neff tentang Self-Compassion menunjukkan bahwa memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan yang sama seperti kita memperlakukan teman dapat menurunkan tingkat kecemasan dan depresi pascatrauma secara signifikan. (*)
Leave a comment