Home Wellness Relationship Hindari! Ini Kesalahan Umum Saat Berkomunikasi dengan Teman
Relationship

Hindari! Ini Kesalahan Umum Saat Berkomunikasi dengan Teman

Terlepas dari gaya komunikasi kita, ada beberapa kesalahan umum yang sering kita lakukan dalam percakapan. Mengenali dan menghindarinya adalah langkah awal untuk menjadi komunikator yang lebih baik

Share
Dua orang wanita sedang berdebat
Ilustrasi percakapan
Share

MEDICGUARD.ID – Percakapan adalah jembatan menuju hubungan yang lebih erat. Sebuah interaksi positif dengan teman saja dapat meningkatkan kesehatan mental kita. Namun, percakapan yang canggung atau tidak nyaman bisa membuat kita stres berhari-hari. Lalu, bagaimana kita memastikan setiap percakapan berjalan lancar?

Terlepas dari gaya komunikasi kita, ada beberapa kesalahan umum yang sering kita lakukan dalam percakapan. Mengenali dan menghindarinya adalah langkah awal untuk menjadi komunikator yang lebih baik.

Kesalahan Umum dalam Percakapan yang Sering Tidak Disadari:

1. “Boomerasking”

Pernahkah Anda mengajukan pertanyaan hanya untuk mendapatkan kesempatan menjawabnya sendiri? Kesalahan ini bukan hanya tidak ramah, tetapi juga bisa membuat kita terlihat manipulatif.

Menurut Marcum, “Boomerasking dapat membuat lawan bicara merasa tidak dianggap serius.” Ini terjadi ketika kita mengangkat topik seolah ingin orang lain membahasnya, padahal niat kita adalah untuk berbicara tentang topik itu sendiri.

2. Memotong Pembicaraan

Sulit memang untuk tetap diam saat kita punya sesuatu untuk disampaikan. Meskipun ada beberapa hubungan di mana kedua belah pihak terbiasa saling memotong dan tidak keberatan, itu lebih merupakan pengecualian daripada norma.

Secara umum, memulai pembicaraan sebelum orang lain selesai dianggap tidak sopan dan tidak menghargai.

“Memotong pembicaraan seseorang seringkali berkontribusi pada persepsi bahwa mereka tidak dihargai atau diremehkan,” catat Marcum.

3. Terlalu Banyak Bicara Tentang Diri Sendiri

Kita semua pernah mendengar cerita—atau mengalaminya sendiri—tentang kencan buruk di mana pihak lain tidak henti-hentinya menceritakan hidup mereka sendiri. Ini membosankan dan bisa membuat lawan bicara merasa tidak penting. Keseimbangan dalam berbagi adalah inti dari percakapan yang baik.

Kita ingin terbuka dan menceritakan apa yang terjadi pada kita, tetapi kita tidak ingin hal itu membayangi lawan bicara. Ini bisa membuat orang lain bertanya-tanya apakah mereka bahkan perlu berada di sana! Penting untuk diingat bahwa diskusi berkembang karena dinamika timbal balik. Tidak ada yang ingin melihat seseorang memukul bola tenis ke dinding sepanjang malam.

4. Memberi Nasihat Berlebihan

Ketika seorang teman atau orang terkasih datang kepada kita dengan masalah, wajar jika kita ingin membantu mereka menyelesaikannya—tetapi mereka mungkin hanya ingin melampiaskan perasaan. “Tindakan yang umum dan merugikan dalam konflik adalah terburu-buru memberikan saran ketika seseorang menggambarkan masalah, alih-alih mendengarkan dan mengakui pengalaman orang lain,” kata Dana Caspersen, pembicara TEDx, spesialis keterlibatan konflik, dan penulis buku “Conflict Is an Opportunity: 20 Fundamental Decisions for Navigating Difficult Times.”

Caspersen menambahkan, “Dampak dari saran yang terburu-buru seringkali membuat orang yang memiliki masalah merasa tidak benar-benar didengarkan dan tidak dianggap mampu menemukan solusi sendiri.” Kita mungkin berusaha membantu, tetapi nasihat yang tidak diminta dapat membuat orang lain berpikir bahwa kita menganggap mereka tidak berdaya.

5. Mengajukan Pertanyaan Tertutup

Mengajukan pertanyaan sangat penting untuk percakapan yang baik, tetapi kita ingin memastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut membuka jalan daripada menciptakan tanda berhenti. Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang hanya memiliki jawaban ya atau tidak, alih-alih pertanyaan yang mengundang lawan bicara Anda untuk melanjutkan obrolan.

Ini adalah perbedaan antara “Apakah Anda suka minuman Anda?” dan “Apa yang Anda suka dari minuman Anda?” yang dapat membuat pertanyaan memicu jawaban satu kata menjadi undangan untuk satu atau dua paragraf.

6. Tidak Mengajukan Pertanyaan Lanjutan

Mengajukan pertanyaan lanjutan menunjukkan bahwa kita mendengarkan, kita terlibat, dan kita peduli dengan orang yang sedang kita ajak bicara. Jika kita mengajukan pertanyaan, mereka menjawab, dan kita memperkenalkan subjek yang sama sekali baru, orang lain bisa merasa bahwa kita hanya mengisi waktu dan tidak tertarik dengan apa yang mereka katakan.

Ketika kita mendengar jawaban seseorang atas pertanyaan kita, secara alami itu akan membuat kita ingin mengetahui sesuatu yang lebih tentang setidaknya satu elemen dari apa yang telah mereka katakan. Poin itu kemudian bisa menjadi pertanyaan lanjutan yang menunjukkan bahwa kita telah mendengarkan secara aktif, bahkan jika yang kita katakan hanyalah, “Saya ingin mendengar lebih banyak tentang itu.”

7. Interogasi

Kita telah membahas bahwa percakapan haruslah pertukaran timbal balik, jadi membombardir seseorang dengan pertanyaan tanpa henti adalah hal yang harus dihindari. Bahkan jika kita menggunakan nada yang bagus dan lembut, kita bisa membuat lawan bicara merasa gelisah dan defensif. Anda tidak ingin terdengar seperti seorang pengacara dan membuat mereka merasa seperti berada di kursi saksi.

Setelah setiap pertanyaan dan jawaban, luangkan waktu sejenak untuk berhenti dan melihat apakah orang lain memiliki sesuatu untuk ditanyakan daripada langsung melompat ke pertanyaan berikutnya.

8. Menggunakan Bahasa yang Meremehkan

Rasa hormat adalah segalanya dalam banyak aspek kehidupan, dan percakapan tidak terkecuali. “Kesalahan terbesar yang bisa dilakukan seseorang adalah pada dasarnya tidak menghargai orang lain saat melakukan percakapan,” kata Marcum, yang mengatakan kepada kita bahwa menggunakan bahasa yang meremehkan adalah kesalahan yang harus dihindari.

Dia mengatakan bahwa “itu bisa dengan sangat cepat mengikis dialog dan menciptakan penghalang antara dua orang.” Perilaku meremehkan bisa menjadi respons langsung terhadap sesuatu yang orang lain ceritakan kepada kita, seperti mengklaim mereka bereaksi berlebihan, atau bisa juga merupakan kurangnya validasi, seperti mengatakan, “Terserah,” ketika seseorang menyatakan ketidaksenangan kepada kita. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Ilustrasi trust issue berupa siluet perempuan dan laki-laki dalam kondisi depresi
Healthy MindMentalRelationship

Trust Issue: Saat Curiga Selalu Menghantui, Kenali Cara Ampuh Mengatasinya

MEDICGUARD.ID – Pernahkah Anda mendapati diri Anda memeriksa ponsel pasangan secara diam-diam?...

Relationship

Tips, Cara Keluar dari Lingkaran ‘Trust Issue’ yang Menyiksa

MEDICGUARD.ID – Frasa “trust issues” sering kali dilontarkan untuk menggambarkan perilaku ketidakpercayaan...

tulisan trust
Relationship

Membangun Fondasi Kepercayaan: Kunci Utama dalam Setiap Hubungan

MEDICGUARD.ID – Kepercayaan adalah pilar terpenting dalam setiap hubungan, namun membangunnya butuh...

Foto dua orang pasangan
Relationship

Membangun Hubungan yang Sehat: Lebih dari Sekadar Cinta

MEDICGUARD.ID – Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa hubungan yang sehat akan berjalan...