MEDICGUARD.ID – Orang tua mana yang tidak cemas ketika batita kesayangan tiba-tiba menutup rapat mulutnya, menyemburkan makanan, atau bahkan menolak sama sekali? Di usia krusial ini, asupan nutrisi seimbang adalah kunci tumbuh kembang optimal. Wajar jika berat badan anak tak kunjung naik memicu kekhawatiran orang tua.
Fenomena Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada batita ternyata punya beragam pemicu. Mulai dari rasa bosan, sedang sakit, tidak lapar, hingga trauma terhadap makanan atau proses makan itu sendiri.
Sayangnya, dalam kepanikan, tak jarang orang tua justru mengambil langkah keliru. Ada yang membiarkan anak hanya makan biskuit favorit, mengganti makanan dengan susu, atau terus-menerus menyajikan junk food. Tak sedikit pula yang mencari vitamin penambah nafsu makan, bahkan mengajak anak keliling kompleks atau bermain saat waktu makan.
Benarkah cara-cara itu efektif?
Perilaku Makan yang Benar Jadi Kunci, Bukan Paksaan!
Menurut penelitian multisenter Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penyebab utama GTM pada anak adalah “inappropriate feeding practice” atau perilaku pemberian makan yang tidak tepat. Ini seringkali berakar sejak fase penyapihan atau pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI).
Pemberian makan yang benar seharusnya mencakup ketepatan waktu, kuantitas, kualitas, kebersihan, dan yang terpenting, kesesuaian dengan tahapan perkembangan anak, termasuk tekstur makanan serta perbandingan makanan padat dan cair.
Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua untuk mencegah GTM? Kuncinya adalah melatih perilaku makan yang benar (feeding rules) pada anak. Bagaimana caranya?
Panduan “DOs and DON’Ts” dalam Mengatasi GTM:
Yang Harus Dilakukan (DOs):
- Jadwalkan Makanan Teratur: Tetapkan jadwal makan utama (tiga kali sehari) dan makanan selingan atau snack (dua kali sehari). Batasi pemberian susu sekitar 500-600 ml per hari, dua hingga tiga kali.
- Batasi Waktu Makan: Jangan biarkan waktu makan berlarut-larut. Maksimal 30 menit per sesi sudah cukup.
- Ciptakan Suasana Menyenangkan: Biasakan makan bersama keluarga di meja makan. Jika tidak memungkinkan, tetap latih anak makan di meja makan untuk menciptakan rutinitas positif.
- Dorong Anak Makan Sendiri: Beri kesempatan anak untuk makan sendiri. Jika anak menunjukkan tanda-tanda penolakan (mengatupkan mulut, memalingkan kepala, menangis), tawarkan kembali makanan tanpa paksaan. Bila setelah 10-15 menit anak tetap menolak, akhiri proses makan. Ini melatih anak mengenali rasa kenyang dan laparnya sendiri.
Yang Tidak Boleh Dilakukan (DON’Ts):
- Hindari Memaksa: Jangan pernah memaksa anak makan, apalagi sampai memarahinya. Hal ini bisa menimbulkan trauma.
- Tidak Ada Distraction Saat Makan: Jangan membiasakan anak makan sambil bermain, menonton televisi, berjalan-jalan, atau melakukan aktivitas lain. Fokus pada proses makan itu sendiri.
- Air Putih Saja di Antara Waktu Makan: Hindari memberikan minuman lain selain air putih di antara waktu makan, karena minuman manis bisa membuat anak kenyang.
- Jangan Jadikan Makanan sebagai Hadiah: Hindari menjadikan makanan sebagai imbalan atau hadiah, karena ini bisa mengubah persepsi anak terhadap makanan.
Dengan menerapkan panduan “feeding rules” ini secara konsisten, orang tua dapat membantu anak membangun kebiasaan makan yang sehat dan memastikan asupan nutrisi yang cukup untuk tumbuh kembang optimal. (*)
Referensi:
Ikatan Dokter Anak Indonesia, UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik. Pendekatan diagnosis dan tata laksana masalah makan pada batita di Indonesia. Jakarta: IDAI;2014. 13 hal
Leave a comment