MEDICGUARD.ID – Tidak semua orang yang bersikap narsistik mengalami Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Begitu pula, tidak setiap perilaku egois atau manipulatif bisa langsung dianggap sebagai gangguan kepribadian.
Perbedaan antara narsistik dan NPD terletak pada seberapa berat perilakunya, seberapa kaku polanya, serta sejauh mana hal itu mengganggu kehidupan dan hubungan sosial seseorang.
Memahami batas ini penting agar istilah kesehatan mental tidak digunakan sembarangan dan tidak berubah menjadi stigma baru.
Narsistik Tidak Selalu Gangguan Mental
Dalam psikologi, narsisme pada dasarnya dipahami sebagai bagian dari sifat kepribadian manusia.
Hampir setiap orang memiliki kadar narsisme tertentu misalnya rasa percaya diri, keinginan untuk diakui, atau dorongan untuk berprestasi.
Berbagai literatur psikologi, termasuk yang dirujuk dari PsychCentral dan MentalHealth, menjelaskan bahwa narsisme berada dalam sebuah spektrum.
Di satu ujung spektrum terdapat healthy narcissism atau narsisme sehat.
Pada tahap ini, narsisme membantu seseorang merasa percaya diri, mengenali kemampuannya, dan termotivasi untuk berkembang.
Di bagian tengah spektrum, terdapat ciri narsistik yang muncul dalam situasi tertentu. Misalnya ketika seseorang sedang berada di bawah tekanan, bersaing, atau menghadapi tuntutan sosial.
Dalam kondisi ini, seseorang bisa tampak lebih berpusat pada diri sendiri atau lebih membutuhkan pengakuan, tetapi pola tersebut tidak menetap.
Sementara di ujung lain spektrum, narsisme dapat berkembang menjadi pola yang lebih kaku dan merusak.
Pada tahap ini, perilaku narsistik mulai mengganggu hubungan dan, dalam kondisi tertentu, bisa mengarah pada gangguan kepribadian.
Artinya, bersikap narsistik tidak otomatis berarti seseorang mengalami NPD.
Narsistik vs NPD
Secara sederhana, narsisme merujuk pada rasa penting diri.
Dalam kadar tertentu, rasa ini adalah bagian wajar dari kehidupan psikologis manusia.
Keinginan untuk dihargai, diakui, dan merasa berarti bukanlah sesuatu yang bermasalah dengan sendirinya.
Masalah mulai muncul ketika pola tersebut berubah dari fleksibel menjadi kaku.
Pada tahap narsisme patologis, seseorang mulai menunjukkan pola seperti merasa diri paling unggul, mudah iri, cenderung mengontrol orang lain, kurang empati, dan jarang merasa bersalah.
Hubungan dengan orang lain tidak lagi dipandang sebagai relasi timbal balik, melainkan sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan diri.
Namun, penting untuk dipahami bahwa narsisme patologis tidak otomatis sama dengan NPD.
Diagnosis Narcissistic Personality Disorder baru dapat dipertimbangkan jika pola narsistik tersebut bersifat menetap, muncul secara konsisten di berbagai situasi hidup, dan secara nyata mengganggu fungsi sosial, hubungan personal, serta kesejahteraan psikologis seseorang.
Di sinilah perbedaan antara narsistik sebagai sifat dan NPD sebagai gangguan kepribadian menjadi penting.
Perbedaan Mendasar Narsistik dan NPD
Perbedaan utama antara narsistik dan NPD bukan soal ada atau tidaknya ego, melainkan bagaimana ego itu bekerja dan apa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Sifat narsistik umumnya ditandai oleh:
- Rasa percaya diri dan ambisi,
- Keinginan untuk diakui atas pencapaian,
- Harga diri yang relatif stabil,
- Kemampuan untuk berempati dan bertanggung jawab.
Sementara Narcissistic Personality Disorder ditandai oleh:
- Perasaan superior tanpa dasar yang realistis,
- Fantasi kesuksesan yang berlebihan,
- Kebutuhan ekstrem akan kekaguman,
- Hubungan yang cenderung eksploitatif,
- Kurangnya empati,
- Pola perilaku yang menetap dan mengganggu kehidupan.
Dengan kata lain, tidak semua orang narsistik memiliki NPD. Namun, orang dengan NPD hampir selalu menunjukkan perilaku narsistik yang ekstrem dan kaku.
Apakah Narsisme Bisa Berkembang Menjadi NPD?
Jawabannya: tidak selalu.
Narsisme bersifat kontekstual dan dapat berubah seiring pengalaman hidup. Seseorang bisa belajar, berefleksi, dan berkembang.
Sebaliknya, NPD merupakan diagnosis jangka panjang dengan pola perilaku yang menetap dan muncul di hampir seluruh aspek kehidupan. Banyak orang memiliki ciri narsistik tanpa pernah memenuhi kriteria diagnosis NPD.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?
Jika pola hubungan terasa terus-menerus menyakitkan baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitar mencari bantuan profesional bisa menjadi langkah yang relevan.
Psikolog atau psikiater dapat membantu melakukan penilaian secara objektif dan manusiawi. Terapi, termasuk cognitive behavioral therapy (CBT), digunakan untuk membantu membangun kesadaran diri, empati, dan pola relasi yang lebih sehat.
Jadi, ditekankan lagi bahwa narsisme adalah bagian dari spektrum kepribadian manusia.
Sementara Narcissistic Personality Disorder merupakan gangguan kesehatan mental dengan pola perilaku yang menetap dan berdampak luas pada kehidupan.
Memahami perbedaan antara narsistik dan NPD penting untuk menjaga ketepatan istilah, mengurangi stigma, serta membuka ruang percakapan yang lebih sehat tentang kesehatan mental.
Diagnosis tetap berada di ranah profesional. Memahami batas ini adalah langkah awal menuju pemahaman yang lebih adil dan lebih manusiawi.
Perlu juga diingat, semua orang harus berhati-hati dengan informasi yang berkembang di media sosial.
Jangan sampai melakukan self-diagnose atau diagnosis mandiri, karena akan berpengaruh pada konsep diri atau hubungan dengan orang lain. (*)
Leave a comment