MEDICGUARD.ID – Belakangan ini, istilah Narcissistic Personality Disorder atau NPD kerap muncul dalam percakapan sehari-hari.
Di media sosial, label ‘narsistik’ dengan mudah dilekatkan pada atasan yang otoriter, pasangan yang manipulatif, atau teman yang gemar memusatkan perhatian pada dirinya sendiri.
Namun, di tengah maraknya penggunaan istilah tersebut, penting untuk menarik napas sejenak, tidak semua perilaku egois atau menyebalkan dapat serta-merta disebut sebagai NPD.
Dalam dunia medis, NPD merupakan gangguan kesehatan mental yang serius.
Ia tidak bisa ditentukan hanya dari cerita sepihak, pengalaman personal, atau pengamatan singkat.
Diagnosis NPD memerlukan proses evaluasi mendalam oleh tenaga profesional kesehatan mental, seperti psikolog klinis atau psikiater.
Apa Itu NPD?
Dalam psikologi klinis, Narcissistic Personality Disorder (NPD) dipahami sebagai gangguan kepribadian yang membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri, membangun harga diri, dan menjalin hubungan dengan orang lain.
Individu dengan NPD kerap hidup dengan kebutuhan besar untuk dikagumi dan diperlakukan secara khusus.
Kekaguman menjadi semacam penyangga bagi diri mereka.
Ketika penyangga itu runtuh saat pujian tidak datang atau pengakuan tak diberikan reaksi emosional yang muncul bisa tajam yaitu marah, tersinggung, atau merasa terluka secara mendalam.
Menariknya, gambaran luar yang tampak percaya diri, dominan, bahkan memikat, sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan dunia batin mereka.
Di balik sikap superior, tak jarang tersembunyi harga diri yang rapuh, ketakutan akan kegagalan, penolakan, dan rasa kosong yang sulit diungkapkan.
Ciri-ciri Orang dengan NPD yang Kerap Muncul
Dalam literatur psikologi klinis, termasuk rujukan dari Cleveland Clinic dan DSM-5-TR, terdapat sejumlah pola perilaku yang kerap dikaitkan dengan gangguan kepribadian narsistik.
Pola-pola ini biasanya bersifat menetap dan memengaruhi berbagai aspek kehidupan.
1. Rasa penting diri yang berlebihan.
Individu dengan NPD cenderung melebih-lebihkan pencapaian, kemampuan, atau perannya.
Mereka merasa diri istimewa dan percaya hanya pantas dipahami atau dihargai oleh orang-orang tertentu yang dianggap setara.
2. Kebutuhan konstan akan pujian dan kekaguman.
Pujian bukan sekadar bonus, melainkan kebutuhan emosional.
Ketika pengakuan tidak datang, harga diri mereka dapat runtuh dengan cepat.
3. Rasa berhak atas perlakuan istimewa.
Orang dengan NPD sering mengharapkan orang lain menuruti keinginannya, bahkan tanpa alasan yang masuk akal.
Ketika harapan ini tidak terpenuhi, kemarahan atau kekecewaan bisa muncul secara intens.
4. Kurangnya empati.
Mereka kerap kesulitan memahami atau peduli pada perasaan orang lain.
Kebutuhan dan emosi orang di sekitarnya sering dianggap remeh, berlebihan, atau tidak penting.
5. Perilaku manipulatif dan eksploitatif.
Hubungan sosial dapat dibangun berdasarkan keuntungan yang bisa diperoleh status, koneksi, kekuasaan, atau validasi diri.
Orang lain hadir bukan sebagai subjek yang setara, melainkan sebagai alat.
6. Sensitivitas tinggi terhadap kritik.
Kritik, sekecil apa pun, bisa dirasakan sebagai serangan personal.
Reaksi yang muncul bisa berupa pembelaan diri berlebihan, kemarahan, atau justru menarik diri sepenuhnya.
7. Perasaan iri dan sikap merendahkan orang lain.
Kesuksesan orang lain dapat memicu rasa iri yang mendalam, yang kemudian ditutupi dengan mengecilkan atau meremehkan pencapaian tersebut.
Mengapa Istilah NPD Mudah Disalahgunakan?
Di era media sosial, istilah psikologis sering terlepas dari konteks ilmiahnya.
NPD menjadi kata populer karena ia menawarkan penjelasan cepat atas pengalaman relasional yang menyakitkan.
Namun, penggunaan istilah ini tanpa pemahaman yang memadai berisiko melahirkan stigma, salah diagnosis, dan penghakiman sepihak.
Tidak semua orang yang egois, manipulatif, atau menyebalkan mengalami NPD.
Demikian pula, tidak semua orang dengan NPD menunjukkan perilaku yang sama persis.
Gangguan ini berada dalam spektrum yang kompleks dan sering kali tumpang tindih dengan kondisi kesehatan mental lain, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan suasana hati.
Dampak NPD dalam Kehidupan Sehari-hari
Tanpa penanganan yang tepat, NPD dapat menimbulkan dampak yang luas.
Hubungan personal baik dengan keluarga, pasangan, maupun teman sering terjebak dalam pola konflik yang berulang.
Di dunia kerja, relasi yang tidak sehat dapat menciptakan ketegangan, ketidakpercayaan, hingga isolasi sosial.
Dalam situasi tertentu, terutama saat menghadapi kegagalan atau penolakan, individu dengan NPD juga berisiko mengalami depresi yang berat.
Oleh karena itu, NPD tidak bisa dipahami sekadar sebagai “sifat buruk”.
Ia adalah isu kesehatan mental yang membutuhkan pemahaman dan penanganan profesional.
Menjaga Jarak dari Diagnosis Mandiri
Di tengah derasnya percakapan publik tentang NPD, satu hal perlu ditegaskan, diagnosis bukan ranah awam.
Melabeli diri sendiri atau orang lain tanpa evaluasi profesional sering kali justru memperparah luka.
Jika pola relasi tertentu terasa menyakitkan baik sebagai pihak yang mengalami maupun yang terdampak langkah paling bijak adalah mencari bantuan dari psikolog atau psikiater berlisensi.
Pendekatan ini bukan hanya lebih akurat, tetapi juga lebih adil dan manusiawi.
Pada akhirnya, memahami NPD bukan tentang mencari siapa yang salah.
Ia adalah upaya untuk memahami kerumitan manusia, sekaligus menjaga kesehatan mental baik milik sendiri maupun orang-orang di sekitar kita.
Penting pula dicatat, bahwa tidak semua orang yang memiliki gejala narsistik itu adalah NPD.
Apabila terdampak oleh orang sekitar yang mungkin terindikasi atau memiliki gejala NPD, bukan suatu hal yang buruk atau memalukan untuk meminta bantuan profesional kesehatan mental (psikolog/psikiater/konselor). (*)
Leave a comment