Home Headline Empati dan Rasa Peduli, Cegah Potensi Risiko Bunuh Diri
HeadlineHealthy MindMental

Empati dan Rasa Peduli, Cegah Potensi Risiko Bunuh Diri

Bunuh diri bukanlah solusi dalam menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi

Share
Menujukkan rasa empati
ILUSTRASI - Empati dan Peduli
Share

MEDICGUARD.ID – Potensi bunuh diri bisa dicegah dan diminimalisir dengan sejumlah langkah dan upaya.

Salah satu poin penting dalam upaya pencegahan bunuh diri yakni dengan rasa peduli terhadap orang-orang terdekat atau di sekitar kita.

Penting untuk diingat bahwa bunuh diri bukanlah solusi dalam menyelesaikan permasalahan yang kita hadapi.

Setiap orang pasti berjuang menghadapi masalahnya, dan setiap masalah pasti ada jalan keluar terbaik selain bunuh diri

Salah satu langkah terpenting dalam upaya pencegahan adalah mengenali tanda-tanda yang mungkin ditunjukkan oleh seseorang yang berpotensi melakukan bunuh diri.

Indikasi ini seringkali ditunjukkan dari perubahan perilaku, komunikasi verbal (kata-kata yang terucap) dan mood (suasana hati) yang signifikan.

Jika Anda atau orang terdekat Anda menunjukkan tanda-tanda ini, jangan ragu untuk mencari bantuan.

Berikan pendampingan, rasa empati dan tunjukkan rasa peduli Anda terhadap orang-orang yang terdekat yang menunjukkan beberapa indikasi yang menunjukkan potensi bunuh diri.

Kepekaan atau aware terhadap perubahan perilaku pada orang yang berpotensi melakukan bunuh diri penting dan perlu untuk diketahui.

Beberapa isyarat atau indikasi orang yang berpotensi melakukan Upaya bunuh diri di antaranya :

  1. Mulai murung, bersedih dan sering menyendiri
  2. Seringkali mulai melontarkan kalimat-kalimat atau bahasa verbal yang mengarah ke Upaya mengakhir hidup. Misalnya : “Aku pergi aja deh, Mending aku nggak ada di dunia ini, Mungkin kita nggak akan ketemu lagi deh, Ayah/ibu titip anak-anak ya, Sayang maafkan aku ya,” dan sebagainya
  3. Raut atau ekspresi muka /wajah yang kadang-kadang bersedih, lalu tiba-tiba gembira
  4. Muncul rasa atau indikasi yang membenci dirinya sendiri (merasa rendah diri)
  5. Berusaha menarik diri atau mengisolasi diri, padahal sebelumnya periang dan mudah bergaul
  6. Perubahan perilaku yang impulsive (tidak mempertimbangkan dampak negatifnya)
  7. Kerap menunjukkan gelagat gelisah dan susah tidur.

Hal yang Bisa Anda Lakukan

Bila Anda menemui anggota keluarga, kerabat atau orang-orang terdekat mulai menunjukkan isyarat-isyarat tersebut, penting untuk segera melakukan upaya pendekatan dengan menunjukkan kepedulian dan rasa empati.

Beberapa hal yang bisa Anda lakukan, di antaranya:

  1. Berempati, seperti menanyakan perasaannya hari ini
  2. Mencoba berbicara tapi jangan memaksa, misalnya dengan kalimat “Apa ada yang ingin kamu ceritakan?”
  3. Mendengarkan secara aktif, jangan memotong dan jangan menghakimi (judge). Terimalah apa yang ingin diceritakan tanpa memotong pembicaraan.
  4. Memberikan validasi perasaan (menerima perasaan lawan bicara) dan beri dukungan penuh secara mental. Misalnya: “Aku paham kamu merasa sedih, kamu bisa bercerita denganku aku ada disini.
  5. Buat suasana dia diterima apa adanya, kemudian bertanya “Apakah kamu mau mendengar pendapatku?” atau “Apakah boleh aku memberi saran?” Jangan memberikan saran jika dia menolak atau belum merasa nyaman.

Dan paling penting juga adalah komunikasi non verbal yaitu ekpresi, intonasi dan bahasa tubuh kita yang menunjukkan kepedulian serta ketulusan.

Terakhir, berikan rasa empati yang tulus dan dapat menunjukkan bahwa kita memahami dan mengerti kondisi yang dia alami dan rasakan.

Kekuatan Mental

Perilaku bunuh diri dapat diminimalkan dengan membangun kekuatan mental.

Antara lain seperti komunikasi yang baik antara orangtua dengan anak maupun pasangan.

Komunikasi yang dilakukan adalah komunikasi asertif.

Pola asuh yang baik akan membantu meningkatkan mental dan cara berpikir yang adaptif atau baik bagi seseorang.

Seperti pola asuh tanpa kekerasan tapi ketegasan, hindari pola asuh yang menyalahkan, pola asuh yang selalu membela, atau pola asuh yang kurang komunikatif.

Keluarga, orangtua atau pasangan harus bisa menjadi tempat mengadu dan mencurahkan isi hati.

Meningkatkan pemahaman spiritual atau keagamaan, memilih circle pertemanan yang membangun mental lebih baik dengan kegiatan yang positif, support sistem yang baik dari keluarga dan lingkungan dapat meminimalkan risiko untuk bunuh diri.

Mari kita aware pada kesehatan mental orang di sekitar kita, membantu mereka sama dengan membantu diri kita sendiri, tetap percaya tuhan akan selalu ada, melindungi kita, memberkati kita dan menyelesaikan masalah kita. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
Seorang perempuan sedang bermeditasi di tengah sawah pada pagi hari
HeadlineHealthy MindMentalNews

Kesehatan Mental : Jenis Penyakit Mental dan Tips Pencegahannya

MEDICGUARD.ID – Menjaga kesehatan mental merupakan hal krusial yang perlu kita lakukan....

Narcissistic Personality Disorder (NPD)
Healthy MindMentalNews

Apa Bedanya Narsistik vs NPD?

MEDICGUARD.ID – Tidak semua orang yang bersikap narsistik mengalami Narcissistic Personality Disorder...

Remaja korban bullying di sekolah
HeadlineHealthy MindMentalNews

Apa yang Bisa Dilakukan pada Remaja Korban Bullying?

MEDICGUARD.ID – Perundungan atau bullying pada anak dan remaja tak bisa disepelekan...

Narcissistic Personality Disorder (NPD)
HeadlineHealthy MindMentalNews

Mengenali Ciri-ciri NPD di Tengah Ramainya Istilah Narsistik

MEDICGUARD.ID – Belakangan ini, istilah Narcissistic Personality Disorder atau NPD kerap muncul...