A

Anemia

Share
Share

Anemia: Ketika Darah Kekurangan Oksigen

Pernahkah Anda merasa lelah, lemas, pusing, atau sesak napas tanpa sebab yang jelas? Bisa jadi itu pertanda anemia. Sederhananya, anemia terjadi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin dalam darah Anda lebih rendah dari seharusnya. Padahal, hemoglobin ini bagai kurir penting yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh. Jika “kurirnya” kurang atau tidak berfungsi dengan baik, otomatis pasokan oksigen ke jaringan tubuh akan berkurang.

Kebutuhan akan hemoglobin yang optimal ini tidak sama untuk semua orang. Usia, jenis kelamin, tinggal di dataran tinggi atau rendah, kebiasaan merokok, hingga status kehamilan, semuanya memengaruhi seberapa banyak hemoglobin yang kita butuhkan.

Apa saja yang bisa menyebabkan anemia?

Ada banyak penyebabnya, mulai dari kekurangan nutrisi akibat pola makan yang buruk atau sulitnya tubuh menyerap nutrisi, berbagai infeksi seperti malaria, parasit, TBC, atau HIV, peradangan, penyakit kronis, masalah kandungan dan kehamilan, hingga kelainan sel darah merah bawaan. Namun, penyebab anemia yang paling umum secara nutrisi adalah kekurangan zat besi, meskipun kekurangan folat serta vitamin B12 dan A juga sering menjadi pemicu penting.

Anemia bukanlah masalah sepele. Ini adalah isu kesehatan masyarakat global yang serius, terutama bagi anak-anak balita, remaja putri dan wanita yang sedang menstruasi, serta ibu hamil dan setelah melahirkan. Bayangkan, menurut WHO, sekitar 40% anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, 37% ibu hamil, dan 30% wanita usia 15-49 tahun di seluruh dunia menderita anemia. Angka ini menunjukkan betapa pentingnya kita memahami dan mengatasi kondisi ini.

Gejala Anemia

Anemia sering kali menunjukkan gejala yang samar, sehingga kadang sulit dikenali. Anda mungkin merasa lelah, lemah, pusing atau sakit kepala, sering mengantuk, atau bahkan sesak napas, terutama saat melakukan aktivitas fisik. Gejala-gejala ini mungkin terasa biasa, tapi jika terus-menerus terjadi, patut diwaspadai.

Dampak anemia ini tidak main-main, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil. Anemia yang parah dapat meningkatkan risiko kematian pada ibu dan anak. Lebih dari itu, anemia akibat kekurangan zat besi bisa menghambat perkembangan kognitif dan fisik pada anak-anak, serta menurunkan produktivitas pada orang dewasa.

Anemia: Cerminan Gizi Buruk dan Masalah Kesehatan Lain

Anemia bukan hanya sekadar kondisi medis, tetapi juga menjadi indikator kuat dari gizi buruk dan masalah kesehatan yang mendasarinya. Anemia memang sudah menjadi masalah tersendiri, namun dampaknya bisa meluas ke berbagai isu kesehatan global lainnya.

Misalnya, anemia dapat berkorelasi dengan masalah pertumbuhan terhambat (stunting) dan kekurangan berat badan pada anak-anak. Di sisi lain, anemia juga bisa dikaitkan dengan berat badan lahir rendah hingga obesitas pada anak-anak, terutama karena kurangnya energi untuk berolahraga.

Secara sosial dan ekonomi, anemia juga membawa konsekuensi serius. Prestasi belajar anak di sekolah bisa menurun, dan produktivitas kerja orang dewasa akan berkurang. Ini tentu saja berdampak pada individu, keluarga, dan bahkan masyarakat secara keseluruhan. (*)

Sumber :WHO
Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles
A

Asam Urat

Apa itu Asam Urat? Asam urat adalah zat kimia yang dibuat ketika...

A

ADHD

Pernahkah Anda melihat seseorang yang sulit fokus, terlalu aktif, atau sering bertindak...