MEDICGUARD.ID – Perundungan atau bullying pada anak dan remaja tak bisa disepelekan dan dianggap sebelah mata.
Pasalnya bullying akan bisa berdampak serius atau berakibat fatal pada kondisi mental korbannya, terutama kalangaan anak dan remaja.
Peran orangtua dan sekolah sangat penting agar kasus kasus perundungan dapat segera diketahui dan dilakukan penanganan.
Menangani remaja korban bullying memerlukan pendekatan yang sangat hati-hati, penuh empati dan terstruktur.
Luka psikologis akibat perundungan sering kali lebih dalam daripada luka fisik, sehingga dukungan dari orang terdekat, misalnya orangtua dan guru, memegang peranan krusial.
Itulah pentingnya menyadari sejak dini tanda-tanda anak atau remaja yang menjadi korban bullying.
Hal ini dimaksudkan agar orangtua bisa mendampingi dan mencari solusi terbaik, sebelum kondisi psikis dan mental korban bertambah parah.
Langkah yang Bisa Dilakukan
1. Bantu anak mencari solusi bersama
Bullying yang terjadi pada remaja biasanya membuat anak merasa tidak berdaya, ketakutan dan putus asa hingga depresi.
Penting bagi Anda untuk meyakinkan ia untuk mencari jalan keluarnya bersama-sama.
Jangan memaksa atau mengancam saat menghadapi anak korban bullying untuk menceritakan detil peristiwa yang dialami, jika ia keberatan atau merasa tersiksa saat menceritakannya.
Lebih baik mulai dari bagaimana hubungannya dengan teman-teman di sekolah, apakah ia merasa cocok dengan teman-teman, atau apakah ia memiliki keinginan untuk pindah sekolah.
2. Jadilah pendengar yang aman
Menjadi pendengar bukan memberikan nasihat, melainkan memberikan ruang aman.
Dengarkan tanpa menghakimi, biarkan mereka menceritakan semuanya. Jangan menyela dengan kalimat yang justru kian membuatnya merasa dihakimi dan terpojok.
Perlu juga memvalidasi perasaan mereka, katakan bahwa mereka berhak merasa sedih, marah, atau takut.
Dan poin penting selanjutnya adalah berikan dukungan penuh, yakinkan bahwa mereka tidak sendirian dan Anda akan membantu menyelesaikan masalah ini.
3. Jaga keamanan dan kumpulkan bukti
Jika bullying yang dilakukan terbukti secara fisik ataupun seksual, jangan ragu untuk membicarakan masalah ini dengan pihak sekolah.
Jangan biarkan anak Anda terus-terusan mendapat perundungan hanya karena Anda merasa tidak enak untuk membicarakannya dengan pihak sekolah.
Pasalnya, perundungan dapat mengakibatkan berbagai masalah mulai dari gangguan makan, gangguan tidur, hingga depresi jika dibiarkan terlalu lama tanpa penyelesaian.
Ketika anak menghadapi kasus bullying, simpan semua bukti yang ada, bahkan lakukan visum jika diperlukan. Kemudian, tunjukkan pada pihak sekolah.
Anda juga bisa meminta bantuan dari pihak sekolah beserta kepolisian untuk menindak kasus tersebut jika sudah menyangkut fisik dan seksual.
Pastikan keselamatan fisik dan digital mereka adalah prioritas utama.
Bantu remaja tersebut untuk memblokir atau membatasi interaksi dengan pelaku di media sosial untuk mencegah trauma lebih lanjut.
4. Fokus pada pemulihan mental
Jangan meremehkan dampak trauma yang mungkin tertanam pada korban perundungan.
Jika remaja mulai menunjukkan gejala depresi, menarik diri, atau menyakiti diri sendiri, segera bawa ke psikolog ataupun konselor.
Terapi dapat membantu mereka membangun kembali harga diri yang hancur.
Bantu mereka mempelajari cara mengelola kecemasan dan bagaimana merespons pelaku dengan tenang tanpa kehilangan kontrol emosi.
5. Bangun Kembali Kepercayaan Diri
Bullying membuat korban merasa tidak berdaya. Bantu mereka menemukan kekuatannya kembali.
Misalnya, ajak mereka bergabung dalam komunitas atau aktivitas di luar lingkungan sekolah, di mana mereka bisa mendapatkan teman baru dan lingkungan yang positif.
Selain itu, bantu mereka mengenali dirinya dengan berfokus pada kelebihan yang dimiliki, dan tidak dimiliki orang lain, termasuk pelaku bullying.
Ingatkan mereka akan bakat dan kualitas positif yang mereka miliki untuk melawan pikiran negatif akibat ejekan pelaku. (*)
Leave a comment