MEDICGUARD.ID – Isu kesehatan mental kini menjadi topik yang semakin terbuka, terutama di kalangan Generasi Z (mereka yang lahir antara pertengasi 1990-an hingga awal 2010-an). Berbagai studi menunjukkan bahwa Gen Z memiliki tingkat kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya pada usia yang sama. Fenomena ini bukan tanpa sebab, melainkan akibat dari kombinasi faktor internal dan eksternal.
Mari kita kenali lebih dalam isu-isu kesehatan mental yang paling sering dialami oleh Gen Z.
1. Kecemasan (Anxiety) dan Depresi
Laporan dari American Psychological Association (APA) secara konsisten menunjukkan bahwa kecemasan dan depresi adalah masalah kesehatan mental yang paling umum di kalangan Gen Z. Tingkat stres yang tinggi sering kali menjadi pemicu utama.
Faktor penyebabnya meliputi:
- Tekanan Akademis: Tuntutan untuk berprestasi, persaingan ketat, dan ketidakpastian masa depan membuat Gen Z merasa tertekan secara terus-menerus.
- Ketidakpastian Global: Mereka tumbuh di tengah-tengah krisis ekonomi, perubahan iklim, dan pandemi, yang semuanya berkontribusi pada rasa cemas akan masa depan.
2. FOMO (Fear of Missing Out) dan Dampak Media Sosial
Generasi Z adalah generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya dengan media sosial. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter, meskipun memberikan konektivitas, juga menjadi sumber perbandingan sosial dan tekanan yang intens.
Dampaknya:
- FOMO: Melihat kehidupan teman atau influencer yang tampak sempurna di media sosial dapat memicu perasaan tidak memadai dan kecemasan karena “takut ketinggalan” pengalaman.
- Cyberbullying dan Body Image: Paparan komentar negatif dan standar kecantikan yang tidak realistis dapat merusak harga diri dan memicu masalah citra tubuh.
Menurut sebuah survei oleh The Pew Research Center, sebagian besar remaja dan dewasa muda (Gen Z) merasa media sosial memiliki dampak negatif pada kesehatan mental mereka.
3. Burnout Akademis dan Profesional
Burnout atau kelelahan mental, fisik, dan emosional, tidak hanya dialami oleh pekerja profesional. Di kalangan Gen Z, burnout sering kali terjadi akibat tuntutan akademis yang berlebihan, kegiatan ekstrakurikuler, dan ambisi untuk membangun portofaktor yang sempurna.
Gejala burnout:
- Lelah berkepanjangan
- Hilangnya motivasi dan minat
- Penurunan kinerja
- Perasaan sinis atau putus asa
4. Keterbatasan Akses dan Stigma
Meskipun kesadaran akan kesehatan mental meningkat, masih ada tantangan signifikan bagi Gen Z untuk mendapatkan bantuan.
Hambatan yang sering ditemui:
- Stigma: Meskipun lebih terbuka, stigma di kalangan keluarga dan masyarakat masih ada, membuat mereka ragu untuk mencari bantuan profesional.
- Biaya: Layanan terapi dan konseling sering kali mahal dan tidak terjangkau.
- Ketersediaan: Akses ke profesional kesehatan mental, terutama di daerah yang lebih kecil, masih terbatas.
Strategi Mengatasi Tantangan Kesehatan Mental
Meskipun tantangan ini nyata, ada langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengatasi isu kesehatan mental.
- Batasi Penggunaan Media Sosial: Terapkan “detoks digital” sesekali atau atur waktu layar harian untuk mengurangi paparan konten yang memicu kecemasan.
- Cari Bantuan Profesional: Jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog atau konselor. Banyak universitas atau lembaga nirlaba kini menawarkan layanan yang lebih terjangkau.
- Terapkan Gaya Hidup Sehat: Rutin berolahraga, konsumsi makanan bergizi, dan tidur yang cukup adalah fondasi penting untuk kesehatan mental dan fisik.
- Bicara dan Terbuka: Berbagi perasaan dengan orang tepercaya, baik itu teman, keluarga, atau guru, dapat mengurangi beban emosional.
- Latihan Mindfulness: Praktik seperti meditasi atau journaling dapat membantu mengelola kecemasan dan meningkatkan kesadaran diri.
Meningkatnya masalah kesehatan mental di kalangan Gen Z adalah alarm bagi kita semua untuk lebih serius memperhatikan dan mendukung mereka. Dengan pemahaman yang benar dan tindakan yang tepat, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih suportif untuk generasi ini. (*)
Sumber Kredibel:
American Psychological Association (APA), Pew Research Center, Mental Health America, National Institute of Mental Health (NIMH)
Leave a comment